Rabu, 16 Mei 2018
BAB V. Iman Kepada Qadha dan Qadar
PENGERTIAN IMAN KEPADA QADA DAN QADAR
Dalam kehidupan sehari – hari, kita sering mendengar orang berkata “memang ini sudah taqdir dari Allah”. Pada umumnya kalimat tersebut dikatakan saat seseorang menerima musibah atau mengalami kesulitan hidup. Untuk mengetahui benar atau salahnya ucapan tersebut, kita perlu memahami arti taqdir (qada dan qadar)
1. Arti Qada dan Qadar
Qada menurut bahasa ada beberapa arti yaitu ketentuan, ketetapan, hukum, perintah, kehendak, pemberitahuan, penciptaan, dan memutuskan sesuatu perkara dengan ucapan atau perbuatan. Pengertian qada menurut istilah adalah ketetapan atau ketentuan Allah sejak zaman azali (sebelum adanya_alam ini) yang belum diketahui oleh makhluk dan belum terlaksana, tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluknya sesuai dengan iradah (kehendak Allah) meliputi baik buruk, hidup dan mati dan seterusnya.
Qadar menurut bahasa adalah berarti kepastian, peraturan, ukuran, dan kuasa mengerjakan sesuatu. Pengertian qadar menurut istilah adalah perwujudan ketetapan (qada) terhadap sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya yang telah ditentukan dan telah terlaksana sesuai dengan iradah Allah. Firman Allah dalam Al Qur an surat Al Furqan ayat 2 dan surat Al Hadid ayat 22 :
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَه تَقْدِيْرًا
Artinya : Dan Dia menciptakan segala sesuatu lalu menetapkan ukuran – ukurannya dengan tepat. (QS. Al Furqan :2)
مَااَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِي اْلاَرْضِ وَلاَفِي اَنْفُسِكُمْ اِلاَّ فِيْ كِتبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا
Artinya : Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya tertulis dalam kitab (lauh mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. QS. Al Hadid : 22)
2. Arti Qada dan Qadar menurut Al Qur an
a. Qada berarti ketetapan hukum Allah swt.
Firman Allah dalam Al Qur an surat Al Ahzab ayat 36 :
وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلاَمُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُوْلُه اَمْرًاانْ يَّكُوْنَ لَهُمُ اْلخَيْرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ
Artinya : Dan tidaklah pantas bagi laki – laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka … (QS. Al Ahzab : 33)
b. Qadar berarti ukuran atau peraturan yang dicipta oleh Allah swt sebagai dasar dalam mengatur alam ini.
Firman Allah dalam surat Al Qamar ayat 49 :
اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنه بِقَدَرٍ
Artinya : Sungguh Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS. Al Qamar :49)
Pada ayat yang lain firman Allah dalan surat Al A’la ayat : 3 :
وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدى
Artinya Yang menentukan kadar (masing – masing) dan memberi petunjuk … (QS. Al A’la : 3)
Dengan memahami arti qada dan qadar, kita dapat mengerti bahwa iman kepada qada dan qadar berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala yang ada di dunia ini terjadi menurut kekuasaan dan kehendak Allah swt dan sesuai aturan yang dicipta-Nya. Jika pemahaman terhadap rukun Islam yang keenam ini tidak hati – hati, tidak dilandasi dengan iman, serta ilmu yang benar, hal tersebut dapat menjerumuskan manusia kepada pola dan sikap hidup yang salah. Mereka salah dalam memahami kata taqdir. Mereka beranggapan bahwa segala nasib manusia, baik atau buruk, muslim atau kafir seseorang telah ditetapkan secara pasti oleh Allah swt. Oleh karena itu, kita perlu memahami arti qada dan qadar menurut ayat – ayat Al Qur an.
Takdir adalah pengetahuan Allah tentang segala sesuatu, termasuk segala sesuatu yang hendak Dia ciptakan atau segala sesuatu yang akan Dia jadikan pada seluruh makhluk, seluruh alam, seluruh kejadian dan segala sesuatu, serta ketentuan mengenai hal itu dan penulisannya pada Lauh Mahfuzh (papan yang terpelihara) dan takdir merupakan rahasia Allah tentang makhluk-Nya yang tidak bisa diketahui oleh malaikat terdekat maupun nabi yang diutus.
Semua yang ada di _alam ini telah diatur oleh Allah swt. Dan menurut ukuran atau aturan yang dikehendaki-Nya. Aturan atau ukuran yang diciptakan oleh Allah swt untuk mengatur alam semesta ini disebut sunnatullah atau hukum alam.Di dalam peraturan tersebut ada hubungan sebab akibat. Setelah memahami ayat – ayat Al Qur an di atas, dapat diambil pengertian iman kepada taqdir. Beriman kepada taqdir berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala yang ada di dunia ini terjadi menurut kekuasaan dan kehendak-Nya yang di dalam ada hubungan sebab akibat.
Iman kepada takdir mengandung 4 (empat ) hal :
1. Percaya bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara global maupun rinci, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya sendiri maupun yang berkaitan dengan seluruh makhluk-Nya
Qs. Ath Thalaq :12
اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الاْٰرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً
“ Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya pengetahuan Allah benar-benar meliputi segala Sesutu”.
2. Percaya bahwa Allah telah menulis ukuran-ukuran segala sesuatu pada Lauh Mahfuzh
Qs. Al Hajj :70
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاء وَالاْٰرْضِ إِنَّ ذٰلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذٰلِكَ عَلٰى اللهِ يَسِيرٌ
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu terdapat di dalam sebuah Kitab(Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”.
Dari Abdullah bin Amr bin Ash Berkata: “ Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda :
كَتَبَ اللهُ مُقَدِيْرِالْخلاَ ئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَْرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ
“Allah telah menulis kadar-kadar para makhluk pada 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi”. Beliau bersabda :”Dan ArsyNya berada diatas air”.
3. Meyakini bahwa alam raya tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak dan kemauan Allah
Qs. Al Qashash 68
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih”.
هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ
''Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya.'' (Ali Imran:6).
Adapun yang berhubungan dengan perbuatan hamba-Nya, Allah berfirman
وَلَوْ شَاء رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
''Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah
mereka dan apa yang mereka ada-adakan.''(Al-An'am:112).
4. Beriman bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu.
Qs. AlQamar : 49
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“ Dan Allah menciptakan kamu dan juga apa yang kamu kerjakan”.
Kewajiban Beriman kepada Qada dan Qadar
Setiap muslim dan muslimat wajib beriman kepada qada dan qadar Allah swt. Pengingkaran terhadap adanya qada dan qadar berarti sikap kafir. Rasulullah saw bersabda yang artinya :
“ Tidaklah beriman seseorang sebelum ia beriman kepada qada dan qadar yang baik maupun yang buruk. Dan tidaklah ia beriman sebelum mengetahui bahwa sesungguhnya apa saja yang sudah dipastikan akan menimpanya tentu tidak akan meleset darinya. Dan sesungguhnya apa saja yang dipastikan meleset dari dirinya pasti tidak akan menimpanya.” (HR. At Tirmizi dari Jabir)
Hadis di atas menjelaskan bahwa pengakuan iman seseorang tidak diterima Allah apabila :
1. Tidak beriman kepada qada dan qadar (taqdir) Allah dan
2. Belum meyakini bahwa segala yang dikehendaki Allah (baik tertimpa sesuatu maupun terhindar dari sesuatu) pasti itulah yang terjadi.
Dengan kata lain bahwa untung maupun ruginya seseorang hanya ada pada kekuasaan dan kehendak Allah swt.
Berhujjah dengan Takdir
Ada dua macam perkara yang ditakdirkan dan diputuskan oleh Allah terhadap manusia :
1. Apa yang diputuskan dan ditakdirkan oleh Allah berupa pekerjaan dan hal-ihwal yang berada di luar kemauan manusia, baik hal-hal yang ada pada dirinya maupun hal-hal yang menimpanya tanpa ikhtiar (pilihan) darinya, terkadang merupakan hukuman bagi yang bersangkutan, terkadang merupakan ujian baginya dan terkadang pula merupakan pengangkat derajatnya).
Qs. Al-Hadid : 22
مَا أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ فِي الاْٰرْضِ وَلاَ فِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذٰلِكَ عَلٰى اللهِ يَسِيرٌ
“ Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam Kitab(Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.
2. Apa yang diputuskan dan ditakdirkan oleh Allah berupa perbuatan-perbuatan yang bisa dikuasai dan dilakukan oleh manusia dengan apa yang diberikan Allah kepadanya, berupa akal, kemampuan dan ikhtiar
Perbuatan-perbuatan semacam itu akan menjadi tanggung jawab manusia di dalam hisab (perhitungan amal) dan menjadi dasar pemberian pahala dan hukuman kepada yang bersangkutan. Karena Allah telah :
a. Mengutus para Rasul
b. Menurunkan kitab-kitab suci
c. Menerangkan yang benar dan yang bathil
d. Menganjurkan memilih iman dan ketaatan
e. Memperingatkan agar menjauhi kufur dan kemaksiatan
f. Membekali manusia dengan akal dan memberinya kemampuan ikhtiar (memilih).
Hubungan antara Qada, Qadar dan Ikhtiar
Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menentukan tentang segala sesuatu bagi makhluknya.
Ikhtiar
Manusia sering tak mampu mengelak atau menghindari suatu peristiwa, misalnya :
1. Mau atau tidak mau menusia pasti mati.
2. Ketika kita sedang tidur nyenyak, tiba – tiba kejatuhan puing – puing pesawat terbang sehingga tewas seketika.
3. Kita sedang membeli makanan di warung, tiba – tiba sebuah bus menerjang warung sehingga warung hancur dan kita mati seketika.
Pada saat yang lain seorang siswa mengalami suatu peristiwa misalnya:
1. Seorang siswa dapat mencapai prestasi yang bagus karena rajin belajar.
2. Seorang siswa memiliki uang yang banyak karena rajin menabung.
3. Seorang siswa rajin berolahraga, terjamin gizinya, dan cukup istirahat sehingga tubuhnya sehat.
Tiga peristiwa pertama di atas menunjukkan bahwa manusia diberi kesempatan untuk berusaha. Mereka harus menjalani peristiwa tersebut. Sebaliknya, tiga peristiwa di bawahnya menunjukkan bahwa manusia harus berusaha. Keberhasilannya banyak dipengaruhi kadar usaha yang dilakukan. Dengan demikian dalam kenyataan hidup ini ada sesuatu yang tidak dapat diusahakan manusia dan ada pula sesuatu yang tergantung dari usaha manusia.
taqdir ada dua macam yaitu taqdir mubram dan mu’allaq .
a. Taqdir Mubram
Taqdir mubram adalah taqdir yang tidak dapat berubah karena kemauan atau usaha manusia. Contohnya adalah soal kapan ajal manusia datang, jika ajal seseorang telah tiba, maka dia tidak mungkin manundanya. Ketika Allah menghendaki ia meninggal saat itu, maka saat itu pula ia akan meninggal. Contoh lainnya adalah nasib manusia,lahir, jodoh dan rezekinya, terjadinya kiamat, dan lain-lain.
b. Taqdir Mu’allaq
Taqdir mu’allaq adalah taqdir yang dapat berubah karena adanya usaha yang dilakukan manusia. Contohnya keadaan manusia semula melarat menjadi kecukupan karena usaha manusia, semula belum tahu menjadi tahu karena berusaha belajar, dan semula sakit menjadi sehat karena berusaha berobat
perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap qada dan qadar
Adapun perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap qada dan qadar Allah swt antara lain :
1. Melatih diri sendiri untuk pandai – pandai mensyukuri nikmat Allah.
2. Mendidik diri untuk ikhlas menerima kenyataan hidup dengan hati sabar dan tabah.
3. Cukup tenang dalam hidup ini, tidak mudah terpengaruh lingkungan.
4. Berusaha untuk dapat mengendalikan diri (tidak bersikap sombong) saat berhasil usahanya. Karena sadar bahwa keberhasilan usahanya tidak terlepas dari kehendak Allah swt.
5. Melatih diri untuk sabar dan tabah apabila usahanya belum berhasil seperti yang diharapkan.
6. Senantiasa berprasangka baik kepada Allah swt ketika menghadapi kesulitan hidup.
7. Selalu meyakini bahwa semua yang dialami manusia (baik menyenangkan maupun menyusahkan) adalah ujian dari Allah swt.
8. Yakin bahwa di balik suatu peristiwa yang kurang menyenangkan pasti ada hikmahnya (bagi orang yang mampu mengambil hikmahnya)
Ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada qadha qadar Allah
Ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada qadha qadar Allah adalah :
1. Bersikap Tawadlu’ kepada Kebesaran Allah swt
Allah swt berfirman dalam surat Al Kahfi ayat 7 :
اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى اْلاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً
Artinya : Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya. (QS. Al Kahfi : 7)
2. Tabah Hati dalam menghadapi Musibah
3. Ridha terhadap Takdir :
> Ridha terhadap ketaatan, merupakan sesuatu yang diperintahkan.
> Ridha terhadap musibah, merupakan sesuatu yang diperintahkan, baik bersifat anjuran maupun kewajiban.
> Ridha untuk menjauhi kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.
4. Banyak bersyukur dan bersabar
5. Jauh dari sifat sombong dan putus asa
6. Memupuk sifat optimis dan giat bekerja
7. Berani qanaah (rela menerima kenyataan hidup yang dialami dengan ikhlas).
8. Berani menghadapi persoalan hidup karena yakin semuanya yang dialami ujian dari Allah swt.
9. Memiliki keberanian dalam berjuang menegakkan Islam karena yakin bahwa hidup dan mati ada pada kuasa Allah swt.
10. Memiliki jiwa yang tenang, tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik.
11. Mampu mengendalikan dirinya di saat suka maupun duka. Tidak mudah bangga jika usahanya berhasil, tidak mudah lemah semangat apabila usahanya belum berhasil.
BAB IV. Keteladanan Sahabat Umar bin Khattab ra.
Keteladanan Sahabat Umar bin Khattab ra.
Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah Saw. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan. Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Beliau merupakan khalifah kedua di dalam Islam setelah Abu Bakar. Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin ‘Adiy bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah Saw pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Rasulullah Saw selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Khatamah binti Hasyim bin al Mughirah al-Makhzumiyah. Rasulullah Saw memberi beliau kunyah Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua dan memberi laqab (julukan) al-Faruq. Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum Jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 keNabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam. Meneladani akhlak utama Umar bin Khattab Ra diantaranya adalah, a) Pemberani. Sejak sebelum masuk Islam, sifat pemberani telah dimiliki Umar bin Khattab. Perbedaannya, jika sebelum masuk Islam keberanian Umar digunakan untuk memusuhi Islam, namun setelah masuk Islam keberanian tersebut untuk melindungi Islam. Keberanian Umar nampak ketika dia akan berhijrah. Dia menantang kaum kafir Quraisy yang menghalangi perjalanan hijrahnya maka dia tidak segan-segan untuk membunuhnya. Keberanian perlu kita miliki dalam membela kebenaran. Meskipun akibat dari perbuatan kita dapat membuat kita celaka namun demi kebenaran kita harus berani melakukannya. Rintangan untuk menyampaikan kebenaran sangat besar, oleh karena itu kita harus memiliki keberanian yang besar pula untuk selalu membela kebenaran. b) Adil. Adil Saat ini untuk menemukan seorang pemimpin yang adil sangat sulit. Apalagi pemimpin yang selalu mengutamakan kepentingan rakyat seperti Umar bin Khattab, tidaklah mudah. Suatu malam Umar bin Khattab berjalan-jalan sendirian untuk melihat kondisi rakyatnya. Sampai di sebuah rumah dia mendengarkan anak kecil menangis dan tidak berhenti-berheti. Setelah tangis anak itu berhenti, Umar bin Khattab mengetuk pintu rmah tersebut. Dia bertanya pada seorang perempuan yang membukakan pintu mengenai alasan anak tersebut menangis. Kata perempuan tadi anak tersebut menangis karena kelaparan. Umar melihat ada api di dapur dan di atasnya terdapat panci. Ketika dibuka Umar isi panci tersebut adalah batu. Ternyata ibu tadi ingin menentramkan hati anaknya agar anaknya mengira sebentar lagi makanan akan masak. Melihat kejadian itu Umar meneteskan air mata dan merasa berdosa karena mengnggap dirinya tidak dapat menjadi pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Dia kemudian bergegas pergi ke baitul mal untuk mengambil sekarung gandum dan dipanggulnya sendiri untuk diberikan kepada keluarga tadi. c) Sederhana. Umar bin Khattab adala sahabat yang terkenal dengan kesederhanaannya. Meskipun menjadi seorang khalifah namun dia tidak memiliki pengawal. Kesederhanaannya juga terlihat dari caranya berpakaian. Pakaian yang dimiliki Umar bin Khattab hanya dua potong. Ketika pakaian itu sobek Umar pun tidak malu untuk menjahitnya sendiri dan memakainya kembali.
Disalin dari : http://www.bacaanmadani.com/2018/04/meneladani-akhlak-utama-umar-bin.html
Terima kasih sudah berkunjung.
BAB III. Akhlak Bertetangga
A. Pengertian Tetangga
Kata Al Jaar (tetangga) dalam bahasa Arab berarti orang yang bersebelahan denganmu. Ibnu Mandzur berkata: “الجِوَار , الْمُجَاوَرَة dan الْجَارُ bermakna orang yang bersebelahan denganmu. Bentuk pluralnya أَجْوَارٌ , جِيْرَةٌ dan جِيْرَانٌ”. Sedang secara istilah syar’i bermakna orang yang bersebelahan secara syar’i baik dia seorang muslim atau kafir, baik atau jahat, teman atau musuh, berbuat baik atau jelek, bermanfaat atau merugikan dan kerabat atau bukan.
Tetangga memiliki tingkatan, sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lainnya, bertambah dan berkurang sesuai dengan kedekatan dan kejauhannya, kekerabatan, agama dan ketakwaannya serta yang sejenisnya. Dengan demikian jelaslah tetangga rumah adalah bentuk yang paling jelas dari hakikat tetangga, akan tetapi pengertian tetangga tidak hanya terbatas pada hal itu saja bahkan lebih luas lagi. Karena dianggap tetangga juga tetangga di pertokoan, pasar, lahan pertanian, tempat belajar dan tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya ketetanggaan. Demikian juga teman perjalanan karena mereka saling bertetanggaan baik tempat atau badan dan setiap mereka memiliki kewajiban menunaikan hak tetangganya.
B. Kategori Tetangga
Dalam islam tetangga itu hanya ada dua kategori, yakni tetangga dekat dan tetangga jauh. Adapun yang dimaksud dengan tetangga dekat dan jauh disitu ada yang mengaitkannya dengan tempat hubungan, kekeluargaan, dan berkaitkan dengan muslim dan bukan muslim. Yang dikaitkan dengan tempat, artinya tentang di mana keberadaan tetangga itu. Keberadaanya bisa di dekat rumah, satu rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), kompleks dan kampung. Namun yang dekat rumah pun jika harus memilih kepada tetangga mana yang harus di dahulukan, lalu dikaitkan dengan hubungan kekeluargaan artinya tetangga yang dekat itu adalah saudara atau keluarga sendiri.
Sedangkan tetangga jauh berarti yang bukan termasuk saudara atau keluarga. Sebab, bisa terjadi dalam lingkungan sosial, ada tetangga yang masih ada hubungan keluaraga atau besan dan ada pula orang lain. Dengan demikian yang lebih dekat adalah yang ada hubungan keluarga daripada orang lain. Adapun yang dikaitkan dengan orang muslim dan bukan muslim, artinya, yang dimaksud dengan tetangga yang dekat adalahb sesame muslim. Sedangkan tetangga jauh adalah orang- orang yang bukan (non) muslim. Sebab bisa saja terjadi, dalam satu lingkungan tetangga ada yang seagama, sama-sama muslim da berlainan agama.
C. Kedudukan Tetangga
Tetangga dalam pandangan islam mempunyai kedudukan yang mulia sebagaimana halnya tamu yang datang ke rumah. Rosulullah saw. bersabda,
“siapa yang percaya kepada hari kemudian, maka jangan mengganggu tetangganya, dan siapa yang percaya kepada Alloh dan hari kemudian, maka harus menghormati tamunya….” (HR Bukhori dan Muslim)
Kemuliaan tetangga yang disebutkan dalam sabda Rasulallah saw. ini adalah, mereka tidak boleh di ganggu, dan berbuat baik kepada mereka sama seperti halnya menghormati tamu. Semuanya itu menjadi ukuran keimanan seseorang.
Beberapa kemuliaan tetangga antara lain sebagai berikut:
v Sebagai saudara dan keluarga
Ada yang mengatakan bahwa tetangga sama dengan saudara atau keluarga sendiri, apa lagi bila mereka seiman dan sesama muslim. Sebab, bila ada kesulitan dan musibah, maka tetanggalah yang lebih dahulu memberikan pertolongan. Oleh karena itulah, sebagai sesama muslim dan seiman mereka harus semakin memperkuat hubungan persaudaraannya.
v Sebagai mitra usaha
Tetangga juga dapat menjadi mitra dalam usaha dan pekerjaan sebagai upaya meningkatkan keadaan ekonomi rumah tangganya. Mereka selalu melakukan kerja sama dalam mendirikan kegiatan dan jaringan usaha yang menguntungkan dan mendatangkan pendapatan.
D. Hak dan Kewajiban Bertetangga
Tetangga adalah orang yang tinggal di sekitar rumah kita, tentunya adalah orang, yang disamping punya kedekatan phisik juga punya kedekatan secara psikhis. Seorang muslim yang benar-benar sadar dan berada di bawah bimbingan agamanya serta senantiasa berpegang teguh pada talinya, dia akan selalu berbuat baik dan memberikan perhatian kepada tetangganya.
Allah SWT secara tegas telah memerintahkan supaya kita berbuat baik kepada tetangga, seperti yang telah difirmankan dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa' Ayat 36 : "Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya kalian”.
v Hak dan kewajiban yang sama dalam bertetangga ada beberapa hal yang terutama yang selama ini sudah berjalan, antara lain sebagai berikut :
1. Saling menjaga kehormatan diri dan keluarganya
2. Saling menjaga rasa aman dari gangguan apapun
3. Saling melibatkan dalam musyawarah
4. Saling membantu dalam berbagai kebajikan dan kebaikan lainnya
v Hak dan kewajiban yang berbeda dalam bertetangga, khususnya antara yang seiman dan sesamamuslim dengan yang bukan muslim, yakni berkaitan dengan masalh akidah dan ibadah, antara lain sebagai berikut :
Saling mendoakan, Menjadi saksi, Mengurus jenazah, Menikah dan Saling memberi salam.
E. Problematika Hidup Bertetangga
Dalam hidup bertetangga banyak pula problemnya. Problematika hidup bertetangga berkait dengan berapa hal, baik dalam lingkungan kompleks perumahan atau di perkampungan.problematika bertetangga lebih besar dan menonjol justru di dalam lingkungan masyarakat heterogen (majemuk) ketimbang dalam masyarakat homogeny yang umumnya masih diikat oleh hubungan kekeluargaan. Namun dari sekian banyak itu, sekurang-kurangnya dapatt ditemukan lima hal, yang umumnya terjadi dalam hidup bertetangga selama ini, terlebih dalam zaman modern seperti yang tengah berlangsung. Kelima hal ini khususnya jika ditinjau dari hal sikap dan prilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai berikut:
1) Kehidupan individualistis.
2) Persaingan tidak sehat.
3) Persengketaan.
4) Keamanan.
F. Akhlak Kepada Tetangga
Dalam kehidupan sosial, tetangga merupakan orang yang yang secara fisik paling dekat jaraknya dengan tempat tinggal kita. Dalam tatanan hidup bermasyarakat, tetangga merupakan lingkaran kedua setelah rumah tangga, sehingga corak sosial suatu lingkungan masyarakat sangat
diwarnai oleh kehidupan pertetanggaan. Pada masyarakat pedesaan, hubungan antar tetangga sangat kuat hingga melahirkan norma sosial. Demikian juga pada lapisan masyarakat menengah kebawah dari masyarakat perkotaan, hubungan pertetanggaan masih sekuat masyarakat pedesaan. Hanya pada lapisan menengah keatas, hubungan pertetanggaan agak longgar karena pada umumnya mereka sangat individualistik.
Tradisi ke Islaman memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembentukan norma-norma sosial hidup bertetangga. Adanya lembaga salat berjamaah di masjid atau mushalla, baik harian lima waktu, mingguan Jum''atan maupun tahunan Idul Fitri dan Idul Adha cukup efektip dalam membentuk jaringan pertetanggan. Demikian juga tradisi sosial keagamaan, seperti tahlilan, ratiban, akikah, syukuran, lebaran dan sebagainya sangat efektip dalam mempertemukan antar tetangga.Tentang betapa besarnya makna tetangga dalam membangun komunitas tergambar pada hadis Nabi yang memberi petunjuk agar sebelum memilih tempat tinggal hendaknya lebih dahulu mempertimbangkan siapa yang akan menjadi tetangganya, al jaru qablad dar, bahwa faktor tetanga itu harus didahulukan sebelum memilih tempat tinggal.Selanjutnya akhlak bertetangga diajarkan sebagai berikut :
a) Melindungi rasa aman tetangga. Kata Nabi, ciri karakteristik seorang muslim adalah, orang lain (tetangga) terbebas dari gangguannya, baik gangguan dari kata-kata maupun dari perbuatan fisik.
b) Menempatkan tetangga (yang miskin) dalam skala prioritas pembagian zakat.
c) Memberi salam jika berjumpa.
d) Menghadiri undangannya.
e) Menjenguk tetanggga yang sakit.
f) Melayat atau mengantar jenazah tetangga yang meninggal dunia.
g) Berempati kepada tetangga.
Yang paling penting dari Iman adalah pembuktian secara perilaku (bijawarih). Karena manusia tidak dianjurkan untuk menilai hati seseorang yang bersifat abstrak, tetapi menilai dari sisi lahirnya saja. Kalau seandainya ucapan dan perbuatan diri kita masih menyakiti tetangga, maka kita tak boleh berharap banyak untuk masuk sorga, karena menyakiti tetangga sama halnya dengan menyakiti Allah dan Rasulullah, sebagaimana Hadist Nabi menerangkan:
“Barangsiapa menyakiti tetangganya, maka ia juga menyakiti aku, barangsiapa menyakiti aku, maka ia juga menyakiti Allah. Barangsiapa menyerang tetangganya, maka sesungguhnya ia sama juga menyerang aku, dan barangsiapa menyerang aku, maka sesunggunya ia telah menyerang Allah Azza, Wajall”.
BAB II. Akhlak Terpuji Kepada Diri Sendiri
AKHLAK TERPUJI KEPADA DIRI SENDIRI
A.BERILMU
1.Pengertian Berilmu
Ilmu menurut bahasa artinya pengetahuan atau kepandaian. Berilmu artinya memiliki pengetahuan atau kepandaian. Orang yang berilmu adalah orang yang memiliki pengetahuan atau kepandaian.
Islam menghendaki umatnya menjadi orang-orang yang berilmu baik ilmu agama maupun umum. Ilmu merupakan barang berharga bagi kehidupan seseorang. Ilmu itu bgaikan lampu atau cahaya bahwa sesungguhnya seseorang itu tidak dapat berjalan dalam keadaan gelap gulita, kecuali dengan cahaya. Demikian pula halnya, orang tidak dapat membedakan antara baik dan buruk kecuali dengan ilmu.
Begitu tingginya perhatiaan Islam terhadap ilmu, sehingga ayat-ayat yang pertama diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad adalah perintah menuntut ilmu, yaitu QS Al-Alaq 1-5
Artinya: 1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Islam tidak menghendaki umatnya sengsara di dunia dan di akhirat. Oleh sebab itu, perintah menuntut ilmu diwajibkan umat Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِ يْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: “Menuntut ilmu diwajibkan atas semua orang Islam”
Masa untuk menuntut ilmu adalah sejak manusia dilahirkan dan berakhir pada saat manusia meninggal dunia. sebagaimana sabda Nabi Muhammad:
اُطْلٌبُو االْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu sejak di buaian sampai liang lahad.”
Orang yang menuntut ilmu seringkali mengalami cobaan dan rintangan. Jika orang tidak sabar menghadapi cobaan, maka ia gagal. Tetapi sebaliknya, jika ia tabah menghadapi berbagai rintangan dan terus giat belajar maka ia akan memetik buah dari nikmatnya seorang yang berilmu.
2.Ciri-ciri orang yang berilmu
a.Rendah hati, ibarat tanaman padi, kian berisi kian merunduk
b.Setiap melakukan pekerjaan selalu diperhitungkan baik atau buruknya
c.Menghargai pendapat orang lain
d.Menghargai waktu
e.Gemar membaca dan suka mencari informasi
f.Bekerja dengan program dan rencana yang jelas
g.Tidak suka bicara tentang sesuatu yang tidak ada gunnya
h.Tidak mengerjakan sesuatu yang tidak bermanfaat
i.Suka berbagi informasi
j.Suka memberikan ilmu yang ia miliki atau mengajarkannya kepada orang lain.
B.KERJA KERAS
1.Pengertian Kerja Keras
Kerja keras adalah melakukan sesuatu dengan semangat atau tekad yang tinggi. Islam mengajarkan kepada umatnya agar dalam bekerja/belajar itu harus bersemangat dan kerja keras, untuk mendapatkan apa yang diharapkan. Manusia tidak mungkin mendapatkan sesuatu tanpa bekerja keras. Islam tidak mengajarkan kepada umatnya hanya bermalas-malasan dan berpangku tangan. Allah berfirman dalam surat At-Taubah: 105
Artinya:”Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.”
2.Ciri-ciri Orang yang Kerja Keras
a.Semangat bekerja yang tidak pernh padam
b.Berprinsip, bahwa hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin
c.Menerima kegagalan sebagi pelajaran untuk memperbaaiki kesalahan
d.Optimis dalam memandang berbagai permasalahan, bahwa permasalahan bukan dihindari tapi dihadapi dan diselesaikan.
e.Terbuka terhadap kritik, saran dan nasihat orang lain
f.Bersyukur atas keberhasilan yang diperoleh dan bersabar atas kegagalan yang dialaminya
g.Suka mengambil pelajaran atas keberhasilan orang.
C.KREATIF
1.Pengertian Kreatif
Kata kreatif berasal dari bahasa Inggris “create” yang berarti menciptakan, “creation” = ciptaan. Sedangkan “creative” berarti memiliki daya cipta. Jadi kreatif adalah memiliki kemampuan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang baru.
Orang yang kreatif selalu melihat dan berfikir bahwa alam di sekitarnya dapat dimanfaatkan untuk keperluan hidup manusia. Ia yakin, bahwa Allah mwenciptakan alam ini tidak sia-sia, sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imran: 191
Artinya:” (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
2.Ciri-ciri Orang yang Kreatif
a.Memiliki banyak ide dan kemauan
b.Memiliki jiwa yang suka tantangan
c.Selalu mencoba dengan sesuatu yang baru.
d.Selalu berpikir dinamis dan professional
e.Bersifat perfecsionis (orang yang ingin segalanya sempurna)
D.PRODUKTIF
1.Pengertian Produktif
Kata produktif berasal dari bahasa Inggris “product” yang berarti hasil, “productive” berarti dapat mengahasilkan. Jadi produktif adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu atau banyak menghasilkan karya/hasil guna.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan masalah produktifitas seperti pada Surah Al-Asr: 1-3
Artinya:”1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Ayat di atas berbicara tentang waktu, jika waktu tidak digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang menghasilkan (produktif) maka termasuk orang yang merugi.
2.Ciri-ciri Orang yang Produktif
a.Menghargai waktu dan disiplin
b.Tekun dalam bekerja
c.Gemar membaca
d.Selalu ingin berkarya sesuai dengan kemmpuan
e.Tidak mengenal putus asa
f.Memiliki pola hidup hemat
g.Memiliki rasa tanggung jawab yang besar
Langganan:
Postingan (Atom)
BAB VIII. Keteladanan Sahabat Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib ra.
Usman bin Affan Usman bin Affan yang menjadi teladan para sufi dalam banyak hal. Usman adalah seorang yang zuhud, tawaduk (merendahkan di...